Asal Moela Sekip

Asal Moela Sekip

Oleh : Rd. Muhammad Ikhsan

Daerah Sekip, begitu orang menyebutnya. Suatu kawasan yang dirasakan sangat panjang alurnya. Jarak ini terasa jauh, bila dibandingkan dengan tempat lain di Palembang seperti Lemabang, Palimo atau Tanggo Buntung. Ibarat mengular rentang tempatnya.

Dari Sekip Pangkal yang bermula di simpang lampu merah Sekip perempatan arah Kamboja, Kodam dan Charitas terus menuju Sekip Kebon Semai, Sekip Tengah, Sekip Madang, Sekip Bendung serta Sekip Ujung di pertemuan jalan Jenderal Basuki Rachmat dan jalan R. Sukamto. Bahkan kawasan Sekip Ujung masih pula menyeberang jauh dari dua jalan terakhir tersebut.

Syahdan nama Sekip berasal dari istilah Belanda untuk lapangan latihan menembak (schietbaan atau schieterein) bagi tentara Hindia Belanda. Ditemukan titik lokasi ini, di tempat tersebut dalam sebuah peta lama kota Palembang tahun 1924 dengan nama Militaire Schijfschietterrein. 
Jika coba direka-reka terjemahannya dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, dari kata terrein berarti area dan schiet sinonim bahasa Indonesia dengan kata tembak. Ditambah kosakata bahasa Belanda lainnya yakni schietschijf yang berarti sasaran. Maka dapat diartikan kurang lebih sebagai target di area lapangan tembak militer.

Menurut beberapa sumber dan dengan memperkirakan luasnya areal yang disebut Sekip Ujung, latihan menembak tersebut tidak hanya bagi persenjataan infanteri seperti senapan dan senjata genggam, tetapi juga tempat latihan menembak meriam artileri sejenis howitzer. 
Mengarah pada rekonstruksi ini, ditambahkan dengan sepenggal informasi didapatkan penulis, memperkirakan bahwa letak yang relatif lebih persis posisi persenjataan di lapangan tembak militer Sekip itu adalah di antara jalan Torpedo dengan jalan Ampibi sekarang. Sedangkan arah latihan menembak tersebut ke barat laut dari posisi tempat itu.

Perkiraan ini didukung pula oleh keberadaan kompleks perumahan perwira militer di Sekip Ujung dengan nama-nama persenjataan. Kawasan ini diberi nama peralatan tempur Alutsista tempo dulu sehingga menjadi jalan Torpedo, Ampibi, Meriam. Bahkan lainnya merupakan persenjataan perang tradisional seperti jalan Bedil, Pedang, Keris, Tombak, Rudus (senjata sejenis kelewang dari Aceh).

Di sinilah posisi awal Sekip, di mana sekarang di titik geografis itu oleh masyarakat sebagai kawasan Sekip Ujung. Oleh karena adanya pembuatan jalan di lingkar luar dengan pembukaan jalan Jenderal Basuki Rachmat dan jalan R. Sukamto di era tahun 1970-an, perumahan tentara ini menjadi tak menyatu lagi.

Bagian lain dari Sekip dengan nama jalan Sersan Sani dan Angkatan 66 ini menjadi terpisah satu sama lain. Pada sisi ini, secara perlahan, karena pertumbuhan pemukiman di sebelah kiri ke arah simpang lima Lebong Siarang dan ke arah kanan tembus kawasan Kenten Abi Hasan Said, kawasan yang baru terbuka lebih luas di era tahun 1980-an ini pun kadangkala masih disebut Sekip Ujung. Saat ini jika menghadap ke arah barat laut, di sebelah kiri menjadi kelurahan Talang Aman, bagian kanan kelurahan Pipa Reja. Nama mana menyambung Sekip Ujung yang semula tersebut.

Uniknya nama kawasan Sekip ditemukan juga di kota lain seperti Bengkulu, Lubuk Pakam, Medan, Yogyakarta, Surakarta atau Singkawang. Semuanya berkonotasi sama dengan lapangan latihan menembak dan di era kemudian menjadi perumahan tentara. Bahkan nama Sekipan dengan latar latihan menembak persenjataan berat seperti ini ditemui juga di Tawang Mangu Karang Anyar Jawa Tengah.

Setelah masa awal kemerdekaan dilalui, kawasan lainnya di sekitar Sekip semakin ramai. Oleh karena semula bukan merupakan kampung atau pemukiman penduduk asli Palembang, rumah-rumah di daerah yang sebagian berkontur tanah yang agak tinggi ini tidak ditemukan rumah bercorak limas.

Kalaupun ada merupakan rumah pindahan. Sebagiannya berdiri rumah depok yang tidak menggunakan tiang. Agak berbeda dengan beberapa titik lagi di kawasan Sekip yang justru lebih rendah. Rumah di tempat ini berbentuk panggung. Masyarakat yang bermukim di sini awalnya telah ada sebelum meletus Perang Dunia II, berasal dari pulau Jawa.

Oleh sebab itu nama jalan kecil atau lorong di daerah Sekip Pangkal, dan Sekip Tengah sebagian berkonotasi dengan pioneer pembuka kawasan tersebut yang tampak berusaha bekerja keras mencari penghidupan dengan menaklukkan tantangan alam. Usaha mengolah sumber daya alam di tempat itu kemudian terpatri dengan nama tempat seperti jalan Kebon Semai, jalan Mandi Aur, jalan Lebak Rejo atau jalan Lebak Mulyo.

Sementara itu, di bagian lain yang disinggung di atas, di mana acap kali disebut Sekip Bendung selain berdiri perumahan Gersik, merupakan kawasan juga dengan kontur tanah lebih rendah, eks rawa yang selalu mengalami banjir pada saat musim penghujan tiba. Hampir semua nama tempat di Sekip Bendung bernuansa bendung, dari jalan Bendung, Bendung Dalam, Bendungan, Sei. Bendung, Rawa Bendung. Tempat di dalam peta yang lebih lama tertulis Talang Bendung ini, ketika sebagian menjelma menjadi perumahan Gersik itu, jalan-jalan yang dibuat diberi nama sayuran seperti bayam, slada, katu, pare, pakis, buncis.

Perumahan Gersik sendiri semula cukup banyak dihuni para guru. Mungkin saja penamaan jalan bernuansa sayur-sayuran tersebut disarankan oleh para guru yang mengerti dan mengajarkan makanan yang sehat. Harapannya dengan nutrisi yang baik menyiapkan generasi berikutnya yang unggul guna mengisi pembangunan. (*)

*Dosen Universitas Sriwijaya

Sumber :

http://www.sumeks.co.id/index.php/metropolis/budaya-opini/31392-asal-moela-sekip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s